
Stadion Maguwoharjo dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai alternatif pengganti Stadion Tridadi yang merupakan homebase PSS Sleman dalam beberapa musim kompetisi. Animo masyarakat Sleman yang besar, terutama Slemania, dalam mendukung PSS setiap kali berlaga di kandang membuat kapasitas di Stadion Tridadi sudah tidak mampu menampung penonton.
Dalam kurun waktu tahun 2004 hingga 2006 dibangunlah sebuah stadion yang memiliki standar internasional. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan ketidaklayaan stadion Tridadi untuk menjamu tim-tim besar Liga Indonesia.
Stadion yang dibangun di Kalurahan Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman ini resmi bisa digunakan sebagai kandang PSS Sleman dalam mengikuti kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007. Dengan memiliki kapasitas maksimal hingga 40.000 penonton membuat stadion Maguwoharjo mampu menampung seluruh penonton yang menyaksikan tim kesayangan mereka, PSS Sleman saat bertanding. Bahkan juga bisa menampung hingga 10.000 suporter tamu yang datang.
Stadion yang memiliki nama resmi Maguwoharjo International Stadium (MIS) ini dianggap sebagai salah satu stadion terbaik di Indonesia selain Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta, Stadion Jakabaring di Palembang, dan Stadion Jalak Harupat di Kabupaten Bandung. Bahkan, Stadion Maguwoharjo pernah digunakan oleh Timnas Indonesia dalam melakukan pertandingan ujicoba. Dalam pertandingan uji coba tersebut, PSS pernah menahan imbang Timnas Indonesia dengan skor 2-2. Dua gol PSS Sleman diborong oleh gelandang serang PSS Sleman, Slamet Nur Cahyo.
Ditulis oleh: Muhammad Fajar [ Slemania Green Fort ]
Sejarah
Profil
Site Supporter PSS
Indonesia Supporter's
Friends List
Archives
Link Banner
Labels
- Copa Indonesia (1)
- Green Fort (4)
- Liga Indonesia (1)
- Merchandise (1)
- PSS Sleman (57)
- Sejarah (3)
- Slemania (16)
- Stadion (2)
- Uji Coba (6)
Sejarah Didirikannya MIS (Maguwoharjo International Stadium)
Label: Sejarah
Sejarah Tim Hijau PSS Sleman Menuju Sepakbola Nasional
Sudah lama dan berpanjang lebar orang membicarakan bagaimana sebuah permainan sepakbola bisa baik, berkualitas tinggi. Bahkan, dalam konteks nasional, Indonesia pernah kebingungan mencari jawaban itu. Berbagai pelatih atau instruktur didatangkan dari Brasil, Jerman, Belanda dan sebagainya. Namun, toh sepakbola Indonesia tak pernah memuaskan, bahkan tekesan mengalami kemunduran.
Dari pengalaman upaya Tim Nasional Indonesia untuk membangun sebuah permainan sepakbola yang baik itu, sebenarnya ada kesimpulan yang bisa diambil. Kesimpulan itu adalah, selama ini Indonesia hanya mencoba mengkarbit kemampuan sepakbolanya dengan mendatangkan pelatih berkelas dari luar negeri. Indonesia tidak pernah membangun kultur atau budaya sepakbola secara baik. Dengan kata lain, upaya PSSI selama ini lebih membuat produk instan daripada membangun kultur dimaksud.
Pelatih berkualitas, teori dan teknik sebenarnya bukan barang sulit untuk dimiliki. Elemen-elemen itu ada dalam textbook, atau bahkan sudah di luar kepala seiring dengan meluasnya popularitas sepakbola. Indonesia termasuk gudangnya komentator. Bahkan, seorang abang becak pun bisa berbicara tentang sepakbola secara teoritis dan analitis.
Sebab itu, seperti halnya sebuah kehidupan, sepakbola membutuhkan kultur. Artinya, sepakbola harus menjadi kebiasaan atau tradisi yang melibatkan daya upaya, hasrat jiwa, interaksi berbagai unsur dan berproses secara wajar dan jujur, bertahap dan hidup.
Untuk membangun kultur sepakbola itu, jawaban terbaik adalah membangun kompetisi yang baik pula. Lewat kompetisi, tradisi sepakbola lengkap dengan segala elemennya akan berproses dan berkembang ke arah yang lebih baik. Akan lebih baik lagi kompetisi itu terbangun sejak pelakunya masih kecil, tanpa rekayasa dan manipulasi. Pada gilirannya, tradisi itu akan melahirkan sebuah permainan indah dan berkualitas, serta memiliki bentuk dan ciri khasnya tersendiri. Itu sebabnya, kenapa sepakbola Brasil, Belanda, Inggris, Jerman dan Italia tidak hanya berkualitas, tapi juga punya gaya khasnya sendiri- sendiri.
Dalam konteks kecil dan lokal, Persatuan Sepakbola Sleman (PSS), sadar atau tidak, sebenarnya telah membangun sebuah kultur sepakbolanya melalui kompetisi lokal yang rutin, disiplin dan bergairah. Berdiri tahun 1976, PSS termasuk perserikatan yang muda jika dibandingkan dengan PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, Persija dan lainnya.
Namun, meski muda, PSS mampu membangun kompetisi sepakbola secara disiplin, rutin dan ketat sejak pertengahan tahun 1980-an. Kompetisi itu tak bernah terhenti sampai saat ini. Sebuah konsistensi yang luar biasa. Bahkan, kompetisi lokal PSS kini dinilai terbaik dan paling konsisten di Indonesia. Apalagi, kompetisi yang dijalankan melibatkan semua divisi, baik divisi utama, divisi I maupun divisi II. Bahkan, pernah PSS juga menggelar kompetisi divisi IIA.
Maka, tak pelak lagi, PSS kemudian memiliki sebuah kultur sepakbola yang baik. Minimal, di Sleman telah terbangun sebuah tradisi sepakbola yang meluas dan mengakar dari segala kelas. Pada gilirannya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat PSS mampu menyuguhkan permainan fenomenal dan khas.
Ini prestasi luar biasa bagi sebuah kota kecil yang berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta ini. Di Sleman tak ada sponsor besar, atau perusahaan-perusahaan raksasa yang bisa dimanfaatkan donasinya untuk mengembangkan sepakbola. Kompetisi itu lebih berawal dari kecintaan sepakbola, tekad, hasrat, motivasi dan kemauan yang tinggi. Semangat seluruh unsur #penonton, pemain, pelatih, pengurus dan pembina# terlihat begitu tinggi.
Meski belum optimal, PSS akhirnya menuai hasil dari tradisi sepakbola mereka. Setidaknya, PSS sudah melahirkan pemain nasional Seto Nurdiantoro. Sebuah prestasi langka bagi DIY. Terakhir, pemain nasional dari DIY adalah kiper Siswadi Gancis. Itupun ia menjadi cadangan Hermansyah. Yang lebih memuaskan, pada kompetisi tahun 1999/2000, PSS berhasil masuk jajaran elit Divisi Utama Liga Indonesia (LI).
Perjalanan PSS yang membanggakan itu bukan hal yang mudah. Meski lambat, perjalanan itu terlihat mantap dan meyakinkan. Sebelumnya, pada kompetisi tahun 1990-an, PSS masih berada di Divisi II. Tapi, secara perlahan PSS bergerak dengan mantap. Pada kompetisi tahun 1995/96, tim ini berhasil masuk Divisi I, setelah melewati perjuangan berat di kompetisi-kompetisi sebelumnya.
Dengan kata lain, PSS mengorbit di Divisi Utama LI bukan karena karbitan. Ia melewatinya dengan proses panjang. Kasus PSS menjadi contoh betapa sebuah kulturisasi sepakbola akan lebih menghasilkan prestasi yang mantap daripada produk instan yang mengandalkan ketebalan duit.
Dan memang benar, setelah bertanding di kompetisi Divisi Utama, PSS bukanlah pendatang baru yang mudah dijadikan bulan- bulanan oleh tim-tim elit. Padahal, di Divisi Utama, PSS tetap menyertakan pemain produk kompetisi lokalnya. Mereka adalah Muhammad Eksan, Slamet Riyadi, Muhammad Anshori, Fajar Listiantoro, Seto Nurdiantoro dan M Muslih. Bahkan, M Ikhsan, Slamet Riyadi dan Anshori merupakan pemain berpengaruh dalam tim.
Pada penampilan perdananya, PSS langsung mengagetkan insan sepakbola Indonesia. Di luar dugaan, PSS menundukkan tim elit bergelimang uang, Pelita Solo 2-1.
Bahkan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri yang saat itu berada di Brunei Darussalam dalam rangka promosi wisata juga kaget. Kepada Bupati Sleman Ibnu Subianto yang mengikutinya, Sri Sultan mengatakan, "Ing atase cah Sleman sing ireng-ireng biso ngalahke Pelita." Artinya, anak-anak Sleman yang hitam-hitam itu (analog orang desa) kok bisa mengalahkan tim elit Pelita Solo.
Saat itu, Ibnu Subianto menjawab, "Biar hitam nggak apa- apa tho pak, karena bupatinya juga hitam." Ini sebuah gambaran betapa prestasi PSS memang mengagetkan. Bahkan, gubernur sendiri kaget oleh prestasi anak-anaknya. Akan lebih mengagetkan lagi, jika Sri Sultan tahu proses pertandingan itu. Sebelum menang, PSS sempat ketinggalan 0-1 lebih dulu. Hasil ini menunjukkan betapa permainan PSS memiliki kemampuan dan semangat tinggi, sehingga tak minder oleh tim elit dan tak putus asa hanya karena ketinggalan. Berikutnya, tim cukup tua Gelora Dewata menjadi korbannya. Bahkan, di klasemen sementara, PSS sempat bertengger di urutan pertama.
Ketika tampil di kandang lawan, Malang United dan Barito Putra, PSS juga tak bermain cengeng. Bahkan, meski akhirnya kalah, PSS membuat tuan rumah selalu was-was. Sehingga, kekalahan itu tetap menjadi catatan mengesankan. Maka, tak heran debut PSS itu kemudian menjadi perhatian banyak orang. Hanya dalam sekejap, PSS sudah menjadi tim yang ditakuti, meski tanpa bintang.
Pembinaan sepakbola ala PSS ini akan lebih tahan banting. Sebab itu, terlalu berlebihan jika menilai PSS bakal numpang lewat di Divisi Utama.
Dengan memiliki tradisi sepakbola yang mantap dan mapan, tak menutup kemungkinan jika PSS akan memiliki kualitas sepakbola yang tinggi. Bahkan, bukan hal mustahil jika suatu saat PSS bisa juara LI.
Apa yang terjadi di Sleman sebenarnya mirip dengan yang terjadi di Bandung dengan Persib-nya dan di Surabaya dengan Persebaya-nya. Di kedua kota itu, kompetisi lokal juga berjalan dengan baik, bahkan sepakbola antarkampung (tarkam) pun kelewat banyak. Maka tak heran jika sepakbola di Bandung dan Surabaya sangat tangguh dan memiliki ciri khas tersendiri. Oleh karena itu, jika tradisi sepakbola di Sleman bisa dipertahankan bahkan dikembangkan, tak menutup kemungkinan PSS akan memiliki nama besar seperti halnya Persib atau Persebaya. Semoga!
Di tulis oleh: Muhammad Fajar [ Slemania Green Fort ]
Label: Sejarah
PSS Gelontor Gawang Panji Putra 3 Goal
PSS Sleman berhasil mengatasi klub lokal Sleman, Panji Putra dengan skor 3-0 dalam laga uji coba di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (9/1) kemarin sore. Pertandingan ini sebagai rangkaian persiapan Laskar Sembada untuk menjamu PSIM Yogya dalam derby DIY Liga Divisi Utama 2009-2010 grup III, 15 Januari mendatang di tempat sama.
Meski terus menekan pertahanan lawan, namun PSS kesulitan membongkar pertahanan Panji Putra dan di babak pertama hanya membuahkan satu gol lewat bidikan Agus Setiawan. Memasuki babak kedua, PSS masih tetap mengurung pertahanan lawan dan menambah dua gol lewat Muhammad Eksan dan gol bunuh diri pemain Panji Putra.
Pelatih PSS Yance Matmey seusai pertandingan menyatakan, penampilan pemainnya dalam uji coba itu tidak bisa dijadikan patokan kualitas tim yang sebenarnya. Mengingat para pemainnya sehabis digenjot latihan fisik selama 4 hari, sehingga pergerakan pemain nampak berat.
"Yang jelas kami telah siap menghadapi PSIM dan tidak ada persiapan khusus. Kami menganggap melawan PSIM, tidak ada yang istimewa. Kami sudah saling tahu kekuatan masing-masing. Ini pertandingan biasa seperti laga-laga lainnya, jadi tak perlu dibesar-besarkan," harapnya.
Diakui Yance, materi pemain PSIM lebih baik dibanding timnya. Karena ada sejumlah pemain yang sudah berpengalaman di Liga Divisi Utama. Meski demikian tidak menjadi penghalang bagi pasukannya untuk memenangi pertandingan. Ia berharap pemainnya tidat terbebani dan bisa tampil lepas dalam laga terakhir putaran pertama ini.
Komposisi pemain yanga akan diturunkan untuk menjamu PSIM pun, lanjut Yance, telah dipersiapkan dengan matang. Mantan pelatih PSBI Blitar ini nantinya akan memasang satu stiker utama di depan dan di dampingi dua pemain sebagai second striker. Dengan formasi ini, Yance berharap lini depannya lebih tajam dan berbahaya untuk mengoyak gawang PSIM.
by: M.Fajar
Label: Uji Coba
Cek Peningkatan Fisik Melawan Panji Putra
Sebagai persiapan menghadapi Derby DIY melawan PSIM Jogja, PSS Sleman sore ini akan menggelar laga uji coba melawan Panji Putra di Stadion Maguwoharjo. Laga tersebut akan digunakan untuk memantau perkembangan fi sik pemain usai digelarnya latihan fi sik selama sepekan terakhir.
Pelatih PSS, Yance Metmey, mengatakan untuk menghadapi PSIM ia terus melakukan pembenahan, baik fi sik, skill serta strategi. “Saya akan lihat peningkatan fi sik mereka. Saya memang selama sepekan ini lebih banyak melakukan latihan fi sik,” katanya kepada Harian Jogja kemarin.
Yance mengungkapkan, selain untuk melihat perkembangan fi sik pemainnya, laga uji coba kali ini juga akan digunakan untuk meningkatkan kerjasama tim dan peningkatan strategi baik serangan maupun pertahanan.
“Jika nanti hasilnya kurang bagus dalam ujicoba kali ini saya akan langsung lakukan pembenahan. Kami sendiri serius untuk menghadapi PSIM di kandang sendiri,” lontar dia.
Terkait dengan kemungkinan penggunaan pemain asing di putaran kedua, Yance mengaku telah meminta kepada manajemen untuk melakukan penambahan pemain, termasuk merekrut pemain asing. Pasalnya tanpa penambahan pemain, target untuk bisa bertahan di Divisi Utama akan sulit tercapai.
[ by : Admin ]
Label: PSS Sleman
Yance Inginkan Nkomo Bergabung PSS
Pelatih PSS Sleman Yance Metmey menginginkan Nkomo bergabung dalam skuadnya, jika manajemen betul-betul mau menambah kekuatan dengan pemain asing dalam menghadapi putaran kedua Liga Utama 2009-2010. Saat ini ‘Laskar Sembada’ sangat membutuhkan kehadiran pemain asing untuk mengangkat moral maupun kualitas tim agar mampu bersaing dengan klub-klub lain.
Menurut Yance, Nkomo sudah pernah latihan bersama PSS. Sehingga secara kualitas sudah diketahui. Selain itu posisi Nkomo sama dengan kebutuhan PSS, yaitu playmaker.
Barisan depan PSS saat ini belum produktif karena masih miskin pengalaman. Dari 4 pemain yang ada di PSS yaitu Sahid Widianta, Dedy Permana, Adi Anggoro dan M Eksan, hanya Eksan yang cukup berpengalaman. Namun ia sering cedera, sehingga belum bisa tampil maksimal.
Yance berharap manajemen serius dalam upaya menambah pemain untuk putaran kedua. Saat ini PSS terus membenahi tim guna menghadapi pertandingan terakhir putaran awal, menjamu PSIM Yogya, 15 Januari mendatang. Dengan materi yang ada, lanjut Yance, PSS tetap berupaya keras merebut kemenangan. Karena hanya kemenangan yang bisa melepaskan diri dari zona degradasi di putaran pertama nanti.(kr)
[ by : Admin ]
Label: PSS Sleman
Extra Joss Sponsor Liga Indonesia Divisi Utama
Setelah terkatung-katung tanpa sponsor, Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia akhirnya mendapatkan sponsor, yaitu Extra Joss. Dengan demikian, titel Kompetisi Divisi Utama, dikatakan oleh CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono, menjadi Kompetisi Liga Joss Indonesia.
"Setelah dengan perjuangan yang melelahkan, akhirnya kami bisa menggelar lanjutan Kompetisi Divisi Utama dengan sebuah nama baru, yakni Kompetisi Liga Joss Indonesia," ungkapnya di Sekretariat PT Liga Indonesia, Kamis (7/1/10).
Dikatakannya, PT Liga Indonesia dalam menggelar Liga Joss Indonesia ini bekerja sama dengan Graha Indosport yang merupakan pemegang hak menggelar kompetisi Liga Joss Indonesia."Kami mendapat mitra kerja menggelar Liga Joss Indonesia bersama PT Graha Indosport selama empat tahun ke depan," tuturnya.
Direktur PT Graha Indosport Herman Ago mengatakan, pihaknya memang mendapat hak pengelolaan Kompetisi Divisi Utama tersebut selama empat tahun. Tahun pertama, mereka mendapat dukungan sponsor dari Extra Joss, makanya untuk tahun pertama ini kompetisi bernama Liga Joss Indonesia, katanya.
Menurut Herman, pihaknya akan bekerjasama dengan stasiun televisi ANTV dalam melakukan siaran langsung pertandingan di Kompetisi Liga Joss Indonesia. ANTV sudah menyatakan siap menyiarkan 36 pertandingan secara langsung hingga babak final, ungkap Herman.
Sementara itu Senior Brand Manager Extra Joss Teguh Indarto mengatakan, pihaknya terus mendorong anak bangsa agar bisa berprestasi di bidang olahraga seperti sepak bola. Karena itu, mereka tertarik untuk menjadi sponsor selama satu musim kompetisi, dan tidak tertutup kemungkinan memperpanjang kerja sama sponsorship itu. Tentunya, apabila perkembangan bisnis Extra Joss berlangsung bagus.
Kompetisi Liga Joss Indonesia diikuti oleh sekitar 34 klub yang saat ini sudah memasuki akhir putaran pertama. Pada akhir kompetisi nantinya setiap juara dan runner-up dari tiap wilayah masuk ke babak enam besar. Mereka akan berkompetisi lagi, hasilnya tiga tim peringkat teratas naik ke Liga Super Indonesia sedangkan tim peringkat empat babak enam besar Liga Joss Indonesia harus mengikuti babak playoff melawan peringkat 16 di Liga Super Indonesia.
Hadirnya Extra Joss untuk menjadi sponsor kompetisi sepak bola di Indonesia merupakan sebuah "kejutan". Pasalnya, selama ini hanya perusahaan rokok yang selalu menjadi sponsor kompetisi sepak bola Tanah Air.
[ by : Admin ]
Label: Liga Indonesia
Manajemen PSS Menanggung Beban Berat
Manajemen PSS Sleman mengaku selalu mengalami kerugian dalam empat laga kandang. Meski demikian, manajemen tim berjuluk Super Elang Jawa ini mengaku optimis bisa mengikuti kompetisi Divisi Utama 2009/2010 hingga akhir kompetisi. Manajemen PSS juga siap mengikuti Copa Indonesia yang bakal digelar bulan Maret mendatang.
Manajer keuangan PSS Sleman, Samsidi, mengatakan manajemen selama ini menanggung beban yang berat dalam hal penyelenggaraan laga home. Pasalnya tiket masuk, yang diperkirakan akan mampu menutup pembiayaan tim di putaran pertama, justru jauh dari harapan.
Dari empat laga home yang dilakoni PSS di stadion Maguwohaqjo, panitia pelaksana (Panpel) pertandingan PSS hanya mampu meraup pemasukan dari sektor penjualan tiket sebesar Rp 120.000.000,- atau Rp 30.000.000,- per pertandingan. Sementara penyelenggaraan laga home menghabiskan dana sebesar Rp 70.000.000,- per pertandingan. "Memang sulit, kami berusaha mendapatkan penambahan biaya tim dari sektor tiket, tapi kami justru tombok. Namun, melawan PSIM dalam laga derby pamungkas pada akhir putaran pertama, kami optimis bisa mendapatkan pemasukan sebesar target Rp 50.000.000,-" katanya.
Manajemen PSS saat ini tengah terus melakukan pendekatan dan penggalangan dana dengan sejumlah pihak demi menutup biaya yang diperkirakan semakin meningkat mengingat PSS akan ambil bagian di Copa Indonesia 2010. "Kami siap ikut Copa Indonesia. Saat ini kami masih terus mengusahakan pencarian dan dari pihak sponsor. Dan dari hasil evaluasi yang kami lakukan usai lawatan ke Gorontalo, pelatih mengatakan tetap akan mempertahankan pemain lama dan kemungkinan tetep tidak akan menggunakan pemain asing," jelas dia. Samsidi mengungkapkan, untuk bisa mengikuti putaran kedua mendatang, manajemen membutuhkan dana minimal sama seperti putaran pertama.
Di putaran pertama, PSS mendapatkan mengeluarkan anggaran sebesar Rp 2,6 miliar. Dari jumlah tersebut, usaha yang dilakukan oleh manajemen dari penggalangan dana hanya mampu mengumpulkan setengahnya, sedangkan setengahnya lagi diusahakan dari sektor lain.
Dengan ikutnya PSS Sleman di ajang Copa Indonesia, anggaran awal yang disiapkan yakni 1,9 miliar di putaran kedua, dipastikan akan semakin membengkak dan besarannya hampir sama dengan kebutuhan diputaran pertama. "Hampir sama, karena kami ikut Copa Indonesia. Sejauh ini, kami mendapatkan penjelasan dari pelatih jika tetap akan mempertahankan formasi lama diputaran kedua, jumlah tersebut lebih meningkat lagi jika kami melakukan perombakan tim secara besar-besaran," pungkas dia.
by: M.Fajar (Slemania Green Fort)
Label: PSS Sleman
Berita Duka
Innalillahi waina illahi roji'un..
Telah meninggal dunia Bp H Sigit Rubiyo, ayahanda dari Ir. Wahyu Wibowo (mantan ketua Slemania th jabatan 2000-2005), hari ini Selasa 5 Januari 2010 jam 14.15 di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Almarhum akan dimakamkan pada hari Rabu 6 Januari 2010 jam 14.00.
Bagi rekan-rekan Slemania yang ingin melayat di harapkan berkumpul di kompleks stadion Tridadi Sleman pukul 12.00 siang.
by: Admin
Label: Slemania
Copa Indonesia Kembali Bergulir Bulan Maret 2010
Copa Indonesia 2010 rencananya akan kembali bergulir mulai Maret hingga akhir Juli mendatang. Namun, PT Liga Indonesia belum menetapkan klub-klub yang layak tampil di Copa Indonesia tahun ini. Menurut sekretaris Liga, Tigor Shalomboboy, Copa Indonesia tahun ini akan digelar dengat format home tournament. Dengan demikian, peserta yang tampil akan dibagi dalam beberapa grup.
"Belum di tetapkan berapa jumlah peserta yang akan tampil pada tournament ini. Mengingat mepetnya waktu, tournament juga kemungkinan akan digelar dalam format home tournament," kata Tigor Shalomboby.
Copa Indonesia musim lalu melibatkan klub dari tiga divisi. Masing-masing dari Liga Super Indonesia, Divisi Utama dan Divisi Satu. Tahun ini, Copa Indonesia akan dimulai dengan penyisihan grup. Penyelenggaraan diperkirakan akan terhenti sejenak selama Piala Dunia 2010 Afrika Selatan digelar bulan Juni mendatang.
Babak semifinal dan final Copa Indonesia akan digelar pada bulan Juli. "Untuk Venue, kami utamakan di daerah yang memiliki minimal dua stadion dan daya dukung kota memadai," kata Tigor. Mengenai sponsor, Tigor juga masih enggan buka mulut. Dia hanya mengisyaratkan bahwa PT Liga Indonesia telah mendapatkan penyandang dana untuk tournament ini.
"Kalau berniat untuk menggelar Coba Indonesia, tentu saja kami sudah mengantongi calon sponsor. Kesepakatannya juga sudah mendekati kata pasti," pungkasnya. Tahun lalu, Sriwijaya FC secara kontroversial mempertahankan gelar Copa Indonesia, Sriwijaya menang WO setelah Persipura Jayapura mundur saat laga menyisakan 30 menit dan kedudukan 1-0 untuk Sriwijaya FC.
by: Admin 3 (Slemania Green Fort)
Label: Copa Indonesia
